Berhitung Sebelum Membuat Keputusan Keuangan

Artikel

Oleh Budi Frensidy –  Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI.

Ada cukup banyak orang tetap kesulitan kas meski penghasilannya meningkat. Bahkan, kenaikan penghasilan justru semakin membuat orang tersebut tidak dapat menyimpan uang.

Mengelola kas seperti menurunkan berat badan, yang begitu sulit dilakukan bagi banyak orang. Ini terjadi karena mereka mengalami bias self-control (pengendalian diri).

Banyak orang yang tidak bisa memilih keputusan yang lebih baik karena tidak mampu menghitung. Ada juga orang-orang yang menganggap memiliki sesuatu selalu lebih baik daripada tidak memiliki. Akibatnya, orang tersebut akhirnya memaksa diri untuk mempunyai sesuatu tersebut.

Berikut adalah contohnya. Misalkan Anda baru saja dipromosikan menjadi manajer di tempat kerja Anda. Dengan menduduki posisi manajer ini, Anda mendapatkan fasilitas mobil baru yang harganya mencapai Rp 350 juta.

Anda juga dapat memilih, apakah hanya sebatas menjadi pemakai mobil atau sebagai pemilik setelah menggunakan mobil tersebut selama lima tahun. Apa pun pilihan Anda, mobil untuk transportasi Anda ini akan diganti dengan yang baru setelah lima tahun.

Jika Anda memilih alternatif pertama, yakni hanya menjadi pemakai, semua biaya kendaraan akan menjadi tanggungan kantor. Jika Anda memilih alternatif kedua, yaitu skema pemilikan, semua biaya yang ditimbulkan mobil tersebut, kecuali bahan bahan bakar, juga menjadi beban perusahaan.

Lalu, setelah lima tahun, mobil tersebut akan menjadi milik Anda. Dalam proses pergantian kepemilikan tersebut, Anda hanya cukup membayar bea balik nama (BBN). Alternatif mana yang akan Anda pilih?

Tidak perlu memiliki

Ada beberapa perhitungan yang perlu Anda buat sebelum membuat keputusan terkait keuangan. Langkah pertama yang harus dilakukan sebelum memutuskan adalah melakukan identifikasi perbedaan antara kedua alternatif di atas, dengan menggunakan analisis biaya-manfaat.

Dalam contoh kasus kepemilikan mobil di atas, ternyata perbedaannya hanya satu. Perbedaannya hanya soal tidak menanggung biaya bahan bakar kendaraan dan mobil tidak dapat dimiliki, atau mengeluarkan biaya ini tetapi mobil akan menjadi aset Anda pada akhir tahun kelima.

Sepintas lalu, pilihan kedua lebih menarik, karena aset Anda akan bertambah signifikan pada akhir tahun kelima. Namun, biaya bahan bakar setiap bulan hitungannya juga tidak sedikit.

Orang-orang yang cerdas akan menghitung total nilai akan datang alias future value (FV) dari biaya bulanan bahan bakar mobil dalam lima tahun. Bandingkan angka ini dengan nilai pasar mobil pada saat yang sama.

Asumsikan nilai mobil turun sebesar 20% pada tahun pertama dan 10% (dari harga awal) untuk tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian, nilai mobil hanya sekitar 40% atau sebesar Rp 140 juta, saat Anda nanti memilikinya. Jika BBN sekitar 2,5%, berarti nilai bersih mobil itu Rp 136,5 juta.

Jika Anda langsung memilih alternatif kedua tanpa berhitung lebih dulu, sangat mungkin nilai mobil yang menjadi referensi Anda tetap Rp 350 juta. Nilai acuan ini tidak tepat, karena nilai mobil mengalami depresiasi dan harga pasarnya lima tahun lagi akan jauh di bawah angka ini.

Kriteria yang muncul dalam keputusan yang benar adalah, selama FV dari pengeluaran Anda untuk bahan bakar mobil lebih kecil dari Rp 136,5 juta, skema pemilikan lebih menarik. Dengan asumsi pengeluaran bulanan bahan bakar mobil Anda adalah Rp 1,97 juta (dengan asumsi 200 liter Pertamax x Rp 9.850 per liter) dan suku bunga 0,5% per bulan atau 6% per tahun, pengeluaran bulanan Anda ini akan bernilai Rp 137,45 juta dalam 60 bulan ke depan.

Ternyata nilai bersih mobil lebih rendah daripada akumulasi dana yang dapat Anda peroleh jika tidak jadi dikeluarkan untuk biaya bahan bakar. Dengan memperhitungkan hal tersebut, alternatif pertama menjadi lebih menarik.

Bila ditilik lebih jauh lagi, jika nilai bersih mobil mencapai Rp 137,45 juta lima tahun lagi, kedua pilihan skema menjadi sama menarik. Jika nilai bersih mobil atau kas neto yang diterima dari penjualan mobil lima tahun lagi di atas Rp 137,45 juta, barulah kita dapat mengatakan alternatif kedua yang lebih menguntungkan.

Jika suku bunga tidak 0,5% per bulan atau pengeluaran bulanan untuk bahan bakar bukan 200 liter atau Rp 1,97 juta, atau harga mobil saat ini bukan Rp 350 juta, hitungannya sudah tentu ikut berubah. Dengan logika keuangan, Anda mampu menghitung sendiri.

Bahwa mobil akan menjadi milik Anda, tidak serta merta membuat alternatif kedua lebih menarik, karena ada biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Mereka yang pernah belajar akuntansi pasti paham bahwa yang penting itu adanya hak eksklusif atau kontrol atas penggunaan suatu aset, dan bukan hak milik. Jadi, kita tidak perlu terobsesi untuk harus memiliki sebuah aset.

Biaya pendidikan

Contoh lain adalah tentang biaya pendidikan anak Anda selama setahun di sebuah sekolah nasional unggulan. Anda ditawari untuk membayar 11 bulan saja jika melunasinya di bulan pertama sekolah yaitu Juli. Ada diskon atau potongan satu bulan untuk pelunasan 1 tahun sekaligus. Sebagai kas surplus, Anda pun tahu dana lebih Anda itu dapat diinvestasikan di ORI atau reksadana campuran dengan yield 6-9%. Menarikkah tawaran ini?

Untuk dapat menjawabnya, sejatinya kita harus mampu menghitung yield atau bunga efektif yang diberikan alternatif pelunasan sekaligus itu dan membandingkannya dengan yield alternatif investasi. Katakanlah nilainya sekitar 8,5%. Jika yield pelunasan lebih tinggi dari 8,5%, alternatif ini menjadi lebih menarik.

Ketika ditanyakan soal ini, ada yang langsung menjawab besar yield adalah 1/12 atau 8,3%. Ada juga yang menjawab 1/11 atau 9,09%. Kedua angka ini jauh dari tepat karena yield yang benar adalah 19,5% dan kasus ini tak lain adalah kasus mencari yield dari sebuah anuitas di muka, dengan A atau PMT= -1, n= 12, dan PV= 11.

Yang kritis akan bertanya, Mengapa anuitas di muka? Jawabnya, karena angsuran mulai bulan Juli dan bukan Agustus. Perbedaan kedua alternatif adalah hanya untuk pembayaran biaya pendidikan 11 bulan berikutnya, yang dapat diangsur bulanan atau dibayar sekaligus dengan potongan 1 bulan.

Tip dari saya, agar tidak sampai salah dalam pengambilan keputusan keuangan, sebaiknya Anda pandai berhitung. Dengan bekal matematika, Anda dapat begitu mudah menilai dan menyikapi produk investasi dan perbankan yang sarat trik dan inovasi. Sadarlah bahwa logika keuangan itu penting dan tidak sulit, jika Anda menyukai matematika.

Terakhir, masih dalam bulan Syawal, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440H kepada para pembaca setia kolom ini. Mohon maaf lahir dan batin.

Budi Frensidy
Penulis Buku 
Matematika Keuangan 

* Artikel telah dimuat di Harian Kontan, 10 Juni 2019)

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel
Cerdas Finansial Berbekal Personal Finance

Oleh Prof. Dr. Budi Frensidy –  Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI. Dua-tiga dekade terakhir, ilmu finansial dan produknya di negeri ini terus berkembang. Tahun 1995 belum ada reksa dana, SUN, ORI, obligasi syariah, sukuk ritel, EBA, ETF, dan atau DIRE di pasar modal kita, apalagi yang namanya KPD (Kontrak …

Artikel
Memahami Perhitungan Indeks Saham

Oleh Prof. Dr. Budi Frensidy –  Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI. Indeks saham dibentuk untuk menggambarkan pergerakan saham-saham di satu bursa. Di beberapa bursa saham yang jumlah emitennya sedikit, indeks dihitung dari seluruh saham, seperti di bursa Taiwan, Korea, dan Indonesia. Di bursa lainnya, indeks sahamnya tidak menggunakan populasi, …

Artikel
Investor Institusi VS Investor Individu

Oleh Prof. Dr. Budi Frensidy –  Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI. Di bursa saham Indonesia, investor saham dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Pengelompokan pertama dilakukan berdasarkan asal investor, menjadi investor asing dan domestik. Per akhir Juli 2021 lalu, investor asing yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) …