Meraih Kebebasan Finansial

Artikel

Oleh Prof. Dr. Budi Frensidy  Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI.

Apa bedanya kaya dan makmur? Kaya biasanya didefinisikan sebagai keadaan memiliki aset atau harta yang lebih banyak daripada orang kebanyakan.

Sebenarnya, lebih bijak bila mengukur kekayaan sebagai aset bersih yang dimiliki, dikurangi dengan utangnya. Di zaman yang marak dengan kartu kredit, KTA dan belanja nonkas lainnya, banyak orang yang kelihatannya kaya. Sebab, aset bersihnya relatif minim dan sebagian besar asetnya dibiayai utang.

Sedangkan definisi makmur adalah lamanya seseorang dapat mempertahankan standar hidupnya tanpa dia atau anggota keluarga lain harus bekerja. Kemakmuran adalah kemampuan arus kas dari aset produktif atau penghasilan pasif seseorang memenuhi gaya hidupnya.  Jika satuan kekayaan adalah rupiah, satuan kemakmuran adalah waktu (bulan atau tahun).

Jika pengeluaran bulanan Anda Rp8 juta dan aset likuid Anda Rp200 juta, kemampuan Anda untuk bertahan hidup normal tanpa harus bekerja adalah 25 bulan. Jika aset Anda itu produktif, Anda akan mampu bertahan lebih lama dari 25 bulan.

Jika aset Anda mampu menopang kehidupan Anda selama beberapa dekade ke depan atau menghasilkan kas lebih dari Rp8 juta per bulan dalam contoh di atas, Anda dikatakan telah mencapai kebebasan finansial (financial freedom). Anda tidak tergantung pada siapa pun dan pada waktu kapan pun dalam hal keuangan.

Orang kaya belum tentu makmur, apalagi bebas finansial. Idealnya, yang ingin kita raih bukan kekayaan, melainkan kebebasan finansial.

Banyak orang berpikir permasalahan utama hidupnya adalah uang, sehingga lebih banyak uang akan memecahkan masalah. Yang terjadi, saat penghasilannya naik, pengeluaran hidup juga meningkat.

Orang seperti ini bukannya semakin makmur, tetapi semakin jauh dari kebebasan finansial. Mereka lupa bahwa yang penting bukan berapa banyak uang yang bisa dihasilkan, tetapi berapa lama uang itu dapat membiayai kehidupan.

Beberapa orang menjadi kaya karena menang undian jutaan dolar, dapat warisan atau menjadi selebriti. Tetapi karena tidak memahami kekuatan uang serta tak mampu mengendalikan diri, uang masuk dan keluar begitu cepatnya.

Bukannya membeli aset produktif seperti saham, obligasi, atau properti untuk disewakan, mereka akan membeli rumah yang lebih besar dan mobil yang lebih mewah. Ujung-ujungnya, uang segera habis dan utang kembali muncul.

Saya melihat banyak sekali orang yang hidupnya sangat dikuasai uang. Yang bijak menurut saya adalah mestinya kita yang menguasai uang dan bukan dikuasai uang.

Jika rumah Anda yang harganya Rp 1 miliar atau Rp 2 miliar rupiah sudah nyaman, buat apa beli rumah baru yang lebih besar dengan harga beberapa kali lipat? Dengan cara berhutang pula! Nilai rumah kita wajarnya 20%-30% dari total kekayaan yang kita miliki.

Belilah aset produktif dan bukan aset konsumtif. Rumah dan mobil lebih tepat dikelompokkan sebagai kewajiban dan bukan sebagai aset.

Rumah atau properti yang disewakan dan memberi return tahunan sekitar 8% adalah investasi. Tapi rumah yang ditinggali atau yang tak disewakan adalah kewajiban. Aset produktif mendatangkan kas masuk, sedangkan aset konsumtif menyebabkan kas keluar.

Silakan membeli rumah yang lebih besar dan mobil baru setelah Anda mencapai kebebasan finansial. Anda dapat menggunakan penghasilan pasif dari saham, obligasi, usaha dan properti yang Anda miliki untuk membeli rumah dan mobil idamkan.

Susahnya, kita hanya mempunyai data kekayaan warga sebuah negara, dan tidak ada data kemakmuran. Ini mungkin karena belum bakunya ukuran kemakmuran.

Berdasarkan riset Global Wealth dari Credit Suisse (2019), 172,9 juta orang dewasa di Indonesia hanya memiliki kekayaan bersih rata-rata $10.545 (sekitar Rp155 juta) yang terdiri atas aset finansial $4.767, aset riil $6.506, dan utang $729.

Kekayaan dan penghasilan tidak pernah terdistribusi normal, tetapi menceng ke kanan. Median kekayaan rata-rata orang dewasa di Indonesia hanya $1.977 (Rp29,1 juta).

Di Indonesia, hanya 106.000 orang atau 0,1% yang memiliki net worth di atas US$1 juta, yang bisa disebut jutawan dalam dollar AS. (lihat tabel). Jauh di bawah negara lain.

Kunci menuju kebebasan finansial sejatinya bukan harus masuk Top 0,1%, tetapi mampu mengendalikan diri (self control) dan dapat memisahkan keinginan dari kebutuhan. Uang tidak akan pernah menyelesaikan obsesi Anda memenuhi semua keinginan.

Kebebasan finansial adalah hasil proses mental dalam memandang uang. Buatlah uang ‘bekerja’ untuk Anda agar bebas finansial.

* tulisan ini telah dimuat di koran Kontan, rubrik Bursa – Wake Up Call, halaman 3, yang berjudul “Meraih Kebebasan Finansial” dan di http://uiupdate.ui.ac.id/article/budi-frensidy-meraih-kebebasan-finansial

Artikel
Cerdas Finansial Berbekal Personal Finance

Oleh Prof. Dr. Budi Frensidy –  Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI. Dua-tiga dekade terakhir, ilmu finansial dan produknya di negeri ini terus berkembang. Tahun 1995 belum ada reksa dana, SUN, ORI, obligasi syariah, sukuk ritel, EBA, ETF, dan atau DIRE di pasar modal kita, apalagi yang namanya KPD (Kontrak …

Artikel
Memahami Perhitungan Indeks Saham

Oleh Prof. Dr. Budi Frensidy –  Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI. Indeks saham dibentuk untuk menggambarkan pergerakan saham-saham di satu bursa. Di beberapa bursa saham yang jumlah emitennya sedikit, indeks dihitung dari seluruh saham, seperti di bursa Taiwan, Korea, dan Indonesia. Di bursa lainnya, indeks sahamnya tidak menggunakan populasi, …

Artikel
Investor Institusi VS Investor Individu

Oleh Prof. Dr. Budi Frensidy –  Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI. Di bursa saham Indonesia, investor saham dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Pengelompokan pertama dilakukan berdasarkan asal investor, menjadi investor asing dan domestik. Per akhir Juli 2021 lalu, investor asing yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) …